Latest Updates
Showing posts with label bencana. Show all posts
Showing posts with label bencana. Show all posts

3 Cerita Mistis Proses Evakuasi Korban AirAsia QZ8501

 3 Cerita Mistis Proses Evakuasi Korban AirAsia QZ8501
Beda yang dialami Sarinah, petugas Cleaning Service Rumah Sakit Umum Daerah  Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Kalteng, lain pula yang ditemui anggota TNI AU Lanud Iskandar, Mulyadi. Jika Sarinah terlihat oleh anaknya penuh mengalir darah, Mulyadi justru dihantui dengan bayangan pria yang berbadan besar.

2. Dibayang-bayangi Pria Besar saat Sendiri di Mobil

Mulyadi menceritakan peristiwa yang dialami itu terjadi saat hendak pulang ke rumahnya usai mengangkat jenazah dari ambulans di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalteng menuju pesawat Hercules TNI AD untuk diterbangkan ke Lanud Juanda, Surabaya.

Usai ikut mengangkat jenazah tersebut, kata dia, malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, ia pulang ke rumah menggunakan mobil dengan menyetir sendiri. Tiba-tiba di sampingnya muncul sosok pria besar. Tapi bayangan itu muncul sepintas.

“Pria itu tiba-tiba duduk di samping saya. Perawakannya saat itu tinggi dan besar. Saya kaget, setelah itu dia cuman tersenyum kemudian menghilang,” kata Mulyadi.

Mulyadi menerka bahwa kemungkinan besar pria itu roh dari jenazah yang diangkutnya. Tujuan mendatanginya kata dia, kemungkinan untuk mengucapkan terima kasih kepadanya karena turut membantu mengevakuasi dan mengantarkan ke daerah asalnya.

“Kejadian itu sempat membuat bulu kuduk saya merinding malam itu. Karena itu sampai sekarang saya masih teringat,” katanya

Cerita Mistis di Balik Pencarian Penumpang AirAsia QZ8501

 Cerita Mistis di Balik Pencarian Penumpang AirAsia QZ8501
KESIBUKAN petugas, warga dan pihak-pihak terkait di Lanud Iskandar semakin terlihat saat helikopter pembawa jenazah korban AirAsia QZ8501 yang berhasil dievakuasi tiba. Dengan sigap mereka menggotong kantong-kantong mayat itu ke mobil ambulans yang tersedia.

Mayat yang dipastikan merupakan korban pesawat Air Asia rute Surabaya-Singapura itu kemudian dibawa ke RSUD Sultan Imanuddin. Di rumah sakit terbesar di Bumi Marunting Batu Aji itu jenazah-jenazah tersebut dibersihkan oleh para medis. Tim medis juga mengidentifikasi jenis kelamin para korban.

Seakan berlomba dengan waktu, secepatnya jenazah-jenazah itu dimasukan ke dalam peti. Peti berisi jenazah yang sudah diberi nomor urut mulai dari 001-167 segera diantar ke pesawat yang akan menerbangkannya ke Surabaya.

Tak menunggu waktu, baik siang atau pun malam, jenazah itu harus diterbangkan untuk segera diidentifikasi lebih lanjut oleh tim DVI di RS Bhayangkara Surabaya. Proses angkut korban dari RSUD Sultan Imanuddin menuju Lanud Iskandar yang pun kerap dilakukan pada malam hari.

Ternyata dalam perjalanan itu sempat terjadi hal-hal di luar akal sehat dan menjadi pengalaman mistis. Boleh percaya atau tidak! Tapi kejadian mistis itu disebut-sebut memang bisa terjadi.

Seperti yang dialami seorang anggota TNI AU Lanud Iskandar, Mulyadi. Dia yang juga ikut prosesi pengangkatan jenazah dari ambulans menuju pesawat Hercules TNI AD untuk diterbangkan ke Surabaya mengaku mengalami kejadian mistis tersebut.

Ia menceritakan, kejadian itu dialaminya berawal ketika ia turut mengangkat peti jenazah untuk dibawa ke pesawat Hercules pada hari pertama dilakukannya penerbangan jenazah ke Surabaya lalu. Usai ikut mengangkat jenazah tersebut, kata dia, malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, ia pulang ke rumah menggunakan mobil dengan menyetir sendiri.

Namun saat menyetir mobilnya itu, dirinya kaget karena di sampingnya seperti ada seorang pria tinggi besar menemaninya pulang. “Pria itu tiba-tiba duduk disamping saya. Perawakannya saat itu tinggi dan besar. Saya kaget, setelah itu dia cuman tersenyum kemudian menghilang,” ujarnya.

Dijelaskannya, kemungkinan besar pria itu roh dari jenazah yang diangkut saat itu. Tujuan mendatangi itu, kata dia, kemungkinan untuk mengucapkan terima kasih kepadanya, karena turut membantu mengevakuasi dan mengantarkan ke daerah asalnya.

“Kejadian itu sempat membuat bulu kuduk saya merinding malam itu. Karena itu sampai sekarang saya masih teringat,” ungkapnya kepada Kalteng Pos (JPNN Grup) usai ikut menerbangkan empat jenazah ke Surabaya tadi malam. (elm/Kalteng pos)
 622  30

Baleendah Kembali Terendam, Siswa Belajar di Rumah Warga

Baleendah Kembali Terendam, Siswa Belajar di Rumah Warga
Hujan deras kembali mengguyur kawasan Kecamatan Baleendah, Bandung, Jawa Barat. Hujan yang turun sepanjang Minggu 6 April malam ini mengakibatkan ratusan rumah di Desa Andir, Baleendah dan Cieunteung kembali terendam banjir.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Senin (7/4/2014), tak hanya rumah warga, sejumlah fasilitas umum seperti sekolah pun ikut terendam banjir.

Banjir setinggi 30 hingga 50 centimeter ini cukup mengganggu aktivitas warga. Termasuk aktivitas belajar para siswa. Perahu pun menjadi satu-satunya alat transportasi keluar-masuk permukiman.

Sementara pihak sekolah terpaksa mengungsikan siswanya agar tidak tertinggal pelajaran. Mereka menggelar kegiatan belajar-mengajar di rumah-rumah warga yang aman dari genangan banjir.

Puluhan siswa harus berbagi tempat untuk belajar. Mereka rela berdesak-desakan agar tetap bisa belajar dan tak tertinggal pelajaran. Warga berharap pemerintah melakukan tindakan untuk mencegah banjir di kawasan Baleendah ini.

Misteri Bau Wangi di Kuburan Massal Korban Longsor Banjarnegara

Misteri Bau Wangi di Kuburan Massal Korban Longsor Banjarnegara
Pencarian korban longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang, Karangkobar, Banjarnegara, resmi dihentikan hari ini. Namun ada cerita lain muncul setelah penghentian evakuasi korban longsor itu.

Kesaksian itu diceritakan oleh Iwan Suwandi (45), sang penggali kubur yang selama 10 hari terakhir membuat liang lahat di pemakaman massal Dusun Aliyan, Desa Ambal, Karangkobar.

Hingga proses pencarian berakhir, Iwan telah menguburkan sebanyak 52 korban yang merupakan warga Dusun Jemblung. Dari jumlah itu, tujuh di antaranya belum dikenali. Mereka menyebut Mr X untuk korban laki-laki, dan Mrs X untuk korban perempuan. Sementara dua anak-anak juga belum dikenali.

Sebagai warga asli Aliyan yang rumahnya berjarak 100 meter dari lokasi pemakaman, banyak sekali keanehan-keanehan yang muncul saat dirinya melakukan prosesi pemakaman. Mulai dari bau-bau menyengat di lokasi pemakaman, hingga bau wangi yang entah dari mana datangnya.

"Saya tadi malam sekira jam 22.00 mengecek di sini (pemakaman), ada bau nggak enak. Setelah saya telusuri ternyata ada satu makam yang tembus ke liang lain sehingga baunya keluar. Langsung saja saya tutup pakai tanah," kata dia kepada VIVAnews, Minggu 21 Desember 2014.

Tak jarang dirinya yang selalu mengecek lokasi pemakaman karena alasan keamanan, bahkan menemukan bau yang teramat wangi. Akan tetapi hal itu sudah menjadi hal biasa bagi satu-satunya warga Aliyan yang merelakan tenaganya menjadi relawan penggali kubur, meski warga lain banyak yang diungsikan.

"Ada empat liang lahat yang sudah saya gali, tetapi tak terpakai karena evakuasi sudah dihentikan," ujar dia sembari mengangkat gagang cangkulnya untuk menutup kembali empat lubang tak terpakai itu.

Sebagai warga yang bermukim di dekat lokasi longsor dan pemakaman massal, Iwan menduga, jumlah korban yang saat ini masih tertimbun masih 50 orang lebih. Menurutnya, saat longsor terjadi, situasi di jalur Banjarnegara-Pekalongan pada Jumat, 12 Desember lalu masih sangat ramai.

"Prediksi saya masih 50 korban lebih. Karena jalan yang tepat di Dusun Jemblung adalah jalur balik. Karena tiap hari Jumat banyak orang pulang kerja lewat situ. Belum lagi, kendaraan pada antre karena sebelumnya jalan kena longsoran kecil," apar dia.

Bagaimanapun itu, sebagai penggali kubur, Iwan adalah satu di antara ribuan relawan yang memiliki segudang pengalaman berharga dari musibah longsor yang meluluhlantahkan kampung tetangganya itu. Hal itu dilakukan tanpa berharap imbalan lebih dari siapapun.

"Ini satu pengalaman bagi saya pribadi. Semua kejadian, yang di atas lebih tahu dan saya tidak berharap lebih," tuturnya usai menguburkan satu jasad terakhir hari itu.

Seorang Kakek Terus Memeluk Istrinya yang Meninggal

Seorang Kakek Terus Memeluk Istrinya yang Meninggal
Sangat mengharukan! Seakan enggan melepaskannya pergi, seorang pria di Tiongkok selama dua jam tanpa henti mendekap erat tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa.

Pria tengah baya itu, tinggal di Shenyang, Liaoning, Tiongkok. Ia menuai simpati luas dari Netizen, setelah foto dirinya tengah memeluk erat istrinya yang sudah tak berjiwa beredar luas di sosial media.

Dalam foto itu, pria yang diketahui hanya dengan nama marganya yaitu He, mengenakan mantel panjang berwarna hitam, dan celana berwarna senada tengah terduduk, sambil mendekap istrinya yang mengenakan mantel bertudung berwarna hitam, dan celana berwarna coklat.

Matanya yang berkaca-kaca terus memandangi wajah istrinya, sementara kakinya ia selonjorkan guna menopang tubuh istrinya.

Menurut pemberitaan Asiaone.com, Minggu (22/12/2014), foto itu diambil pada 17 Desember 2014. Para saksi mata yang melihat insiden itu mengatakan, sebelum meninggal, wanita itu sempat kehilangan kesadaran.

Ia sempat siuman sebentar, namun tak sempat memberitahukan nomor telepon sanak saudaranya. Setelah aparat polisi tiba, mereka menemukan nomor kontak suaminya melalui kartu medis yang berada di dalam sakunya.

Mereka segera menghubungi He, dan memberitahukan apa yang terjadi. Pria berusia 63 tahun itu segera datang ke lokasi kejadian, namun terlambat mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya. He terkulai lemas di samping istrinya dan meratapi kepergiannya.

Cuaca saat itu dibawah 0 derajat Celcius, dan para pengguna jalan yang tengah berada di lokasi kejadian, menawarkannya potongan kotak styrafoam untuknya agar ia bisa merasa lebih hangat

Ia pun menolak meninggalkan istrinya, dan bersikeras berada di sampingnya, hingga seorang anaknya tiba untuk menjemputnya dan istri yang ia sangat kasihi tersebut.

23 Orang Terluka Digigit Piranha saat Berenang di Sungai

23 Orang Terluka Digigit Piranha saat Berenang di Sungai
Sedikitnya 23 orang luka-luka akibat diserang ikan piranha saat sedang berenang di sebuah sungai di timur laut Argentina. Warga setempat menyebut piranha itu dengan palometa.

Dikutip dari AAP, Jumat (19/12), untuk mencegah luka lebih parah pihak berwenang di kota Garupa telah menutup pantai setempat. Sebanyak 10 serangan oleh palometa dilaporkan di Garupa dalam beberapa hari di awal Desember.

Salah satu korban adalah perempuan berusia 20 tahun. Dia digigit cukup dalam di kaki kanannya.

Tahun lalu juga pernah dilaporkan lebih dari 70 orang terluka karena palometa. Warga yang ingin berenang di sejumlah wilayah Argentina harus mewaspadai sengatan ikan pari dan kalajengking seiiring temperatur udara yang meningkat.

Misteri Ribuan Lele menjadi pertanda Sebelum Longsor Banjarnegara

Misteri Ribuan Lele menjadi pertanda Sebelum Longsor Banjarnegara
Sepekan sudah bencana longsor maut di Dusun Jemblung Desa Sampang, Banjarnegara, Jawa Tengah, terjadi. Dusun kecil di lereng Dieng ini pun mendadak populer, ramai dikunjungi.

Bagaimana tidak, lebih dari setengah penduduknya tewas ditelan longsor mahadahsyat pada Jumat petang, 12 Desember 2014. Rumah-rumah luluh lantak, puluhan hektare sawah dan ladang hilang tak berbekas.

"Ini tragedi mendalam bagi kami yang ditinggalkan. Desa dan keluarga kami hilang dalam sekejap, semuanya tertimbun tanpa tahu dosanya apa," ujar Kepala Desa Sampang Purwanto.

Muncul ribuan lele

Menurut beberapa saksi mata, bencana longsor maut itu sebenarnya sudah menunjukkan sejumlah tanda. Namun warga banyak yang tidak menghiraukan.

Satu tanda paling nyata adalah terjadinya longsor awal, sehari sebelum longsor besar Jumat. Namun karena hanya menimbun ruas jalan dan tidak menyasar ke pemukiman, tidak ada yang mengungsi. Bahkan mereka malah menonton pembersihan material longsor oleh petugas TNI dan Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Pemda Jateng.

Tanda berikutnya adalah munculnya ribuan lele di aliran sungai yang membelah Dusun Jemblung. Pengakuan saksi mata, siang menjelang sore pada Jumat petaka itu, ada warga yang berhasil menjaring ikan lele dalam jumlah banyak di aliran sungai yang mengairi sawah warga.

"Itu ikannya melimpah-limpah. Tidak cukup satu ember. Padahal biasanya kalau mancing, susah bukan main. Namun entah kenapa, pada siang sampai sore, banyak sekali ikan lele di aliran sungai," tutur Kepala Desa Kalibening, Khodim, yang mengaku mendapatkan informasi tersebut dari warga Dusun Jemblung yang selamat.

Warga memperkirakan, kemunculan lele tersebut besar kemungkinan larian dari dalam tanah. Sebab, nun jauh di atas Dusun Jemblung, yakni di atas bukit yang kini menjadi sorotan Tim Kaji Gerak Cepat Gerakan Tanah, ada kolam berdiamater 30 meter dengan kedalaman 1 meter. Kolam ini ternyata sudah lama ada. Warga menamakannya dengan Telaga Lele.

"Telaga itu sudah ada sejak dulu. Dinamakan Telaga Lele, karena dulunya memang banyak lele. Warga memperkirakan munculnya ratusan lele ini karena ikut aliran air dari telaga yang turun ke bawah dusun," kata Khodim.

Penampungan air

Fenomena munculnya lele tersebut, memang tak banyak warga yang mengetahuinya. Sebab, pada siang menjelang sore, warga kebanyakan menonton pembersihan jalur yang tertimbun longsor di ujung desa.

Karena itu hanya segelintir warga yang tahu. Itu pun karena kebetulan mereka tengah memancing dan menjaring di aliran sungai Dusun Jemblung. "Bayangkan saja kata mereka yang dapat lele itu, dari mulai pukul 12.00-17.00, lelenya tak habis-habis. Tapi ini baru kepikiran usai bencana, kenapa muncul lele secara tiba-tiba dalam jumlah banyak di desa itu," kata Khodim.

Sebab itu, muncul sejumlah spekulasi. Salah satunya yang paling masuk akal, kata Khodim, adanya lorong air yang menjadi penghubung antara Dusun Jemblung dengan Telaga Lele yang berada di atas bukit yang kini sebagian materialnya sudah menutupi desa.

Hal itu cukup beralasan. Berdasar hikayat nama, Jemblung didefinisikan sebagai tempat penampungan air atau wadah air besar yang terbuat dari tanah liat. Karena itu, wajar adanya lembahan yang kini menjadi pemukiman warga tersebut, banyak ditemukan aliran air di lereng bukit yang kemudian tumpah ke bawah dusun.

"Bisa jadi dari aliran air yang banyak itu, keluarlah lele-lele yang ada di atas bukit. Atau bisa jadi juga, air-air ini yang membuat tanah dusun jadi gampang rapuh. Jadi ketika hujan datang, longsor pasti mengancam," kata Khodim.

Kini, terlepas dari itu semua. Bencana maut Dusun Jemblung, harus menjadi pelajaran semua pihak. Bahwa sesungguhnya bencana bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Baik Khodim maupun Purwanto berharap, ada langkah serius dari pemerintah setempat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya bencana serupa.

"Kami prinsipnya siap apapun keputusan yang hendak diambil pemerintah tentang keberadaan dusun kami. Kami cuma ingin hidup tenang dan tetap bisa memenuhi kebutuhan harian kami dari ladang yang ada di dusun kami," kata Purwanto.

Puting Beliung Rusak 500 Rumah di Bandung

Puting Beliung Rusak 500 Rumah di Bandung
Rumah warga yang rusak diterjang angin puting beliung di kawasan Bandung Timur, masih bertahan dirumahnya masing-masing dan sebagian mengungsi di rumah tetangga. Sampai saat ini belum ada tempat pengungsian.

Hingga Jumat (19/12/2014) dinihari, aliran listrik mati akibat kabel listrik yang melintasi kawasan tersebut putus tertimpa pohon yang tumbang. Sementara itu, warga dan polisi tetap berjaga-jaga di sekitar lokasi. Tercatat rumah yang rusak akibat angin puting beliung tersebut mencapai 500 rumah.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil yang datang ke lokasi kejadian peristiwa akan mendirikan posko pengungsian dengan melakukan pembersihan lokasi dibantu TNI dan Polri. Dia mengatakan, Pemerintah Kota Bandung akan memberikan bantuan bagi warga yang rumahnya rusak.

Selain rumah rusak parah, angin puting beliung yang melanda dua Kecamatan Panyileukan dan Cibiru itu juga menewaskan satu warga yang tertimpa reruntuhan tembok bangunan.

Korban Tewas Jadi 56 Orang, 52 Masih Hilang ; Longsor Banjarnegara

Korban Tewas Jadi 56 Orang, 52 Masih Hilang ; Longsor Banjarnegara

Jumlah korban tewas akibat bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah kini mencapai 56 orang. Sementara 52 warga lainnya masih belum ditemukan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, hingga Selasa (16/12/2014) pukul 07.15 WIB, korban meninggal dunia sebanyak 56 orang, terdiri dari 38 laki-laki dan 18 perempuan. Sebanyak 10 adalah anak-anak dan 46 orang dewasa. Sebanyak 6 jenazah belum dapat diidentifikasi. 52 orang masih belum ditemukan hingga saat ini.

Dari 17 jenazah korban yang ditemukan pada Senin 15 Desember 2014, 4 jenazah ditemukan di dekat Jalan Raya Banjarnegara-Pekalongan yang tertimbun longsor, sedangkan yang lainnya ditemukan di sektor II atau di bagian bawah tempat 35 rumah yang tertimbun longsor.

Bupati Banjarnegara menegaskan, masa tanggap darurat bencana longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah telah ditetapkan sejak 8-21 Desember 2014. Artinya sebelum kejadian longsor di Dusun Jemblung pun, Pemda Banjarnegara sudah dalam masa darurat karena ada kejadian longsor di Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Pejawaran, dan Kecamatan Sigaluh.

Dengan adanya longsor yang lebih besar di Desa Jemblung, maka konsentrasi penangan darurat dialihkan di kawasan tersebut.

Kepala BNPB Syamsul Maarif, telah memerintahkan Dandim Banjanegara untuk mendata kembali warga di luar Dusun Jemblung yang hilang untuk memastikan adanya korban yang berasal dari luar Dusun Jemblung. Sebab berdasarkan informasi warga saat bersamaan longsor ada kendaraan yang sedang melintas. Pendataan masih dilakukan.

Jumlah pengungsi hingga saat ini ada 1.145 jiwa tersebar di 10 titik. Kementerian Sosial bersama BPBD dan relawan telah mendirikan dapur umum untuk melayani kebutuhan dasar pengungsi. Kementerian PU Pera mengerahkan 15 alat berat untuk membuka jalan yang tertimbun longsor.

Sementara itu, sekitar 300 meter jalan tertimbun longsor hingga ketebalan 2-3 meter. Tim gabungan dari Tim Reaksi Cepat BNPB, BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, NGO, dunia usaha, relawan, dan masyarakat hingga saat ini bahu membahu melakukan penanganan darurat. (Mvi/Mut)

Relawan Bersorak saat Jokowi Blusukan ke Lokasi

Relawan Bersorak saat Jokowi Blusukan ke Lokasi
Presiden Joko Widodo, Ahad, 14 Desember 2014, mengunjungi lokasi longsor di Dukuh Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan pengawalan yang tidak terlalu ketat, Jokowi terjun langsung ke lokasi pencarian korban, membaur dengan para relawan, tentara, dan polisi yang tengah sibuk mencari korban.

Sebelum Jokowi turun, para relawan bersorak, "Pak Jokowi, Pak Jokowi" sambil melambaikan tangan. "Turun Pak, ke sini." (Baca: Longsor Banjarnegara, Jokowi Fokus Urus Evakuasi)

Selain menyaksikan langsung proses evakuasi, Jokowi memberikan pula arahan kepada relawan dan pejabat daerah terkait dengan proses penyelamatan korban. Jokowi tiba di lokasi sekitar pukul 12.00 siang. (Baca: Dalam Lima Tahun, Banjarnegara Longsor 15 Kali)

Tiga puluh menit kemudian Presiden naik ke perbukitan di seberang lokasi. Dari bukit tersebut, ia bisa melihat lokasi longsor secara utuh. Sepuluh menit kemudian Presiden kembali ke lokasi longsor yang penuh lumpur untuk memberi pengarahan.

Pada kunjungan yang berlangsung sejam tersebut, Presiden tidak melayani pertanyaan wartawan.

Menurut Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Presiden Jokowi mendarat di Cilacap. Ia melanjutkan perjalanan selama satu jam menggunakan mobil Toyota Jeep.

Dalam rombongan, ikut pula ibu negara Iriana Widodo. Sebelumnya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Menteri Sosial sudah tiba di lokasi longsor.

Jokowi mengunjungi lokasi bencana longsor di Dusun Jemblung

Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi), Minggu, 14 Desember 2014, menepati janjinya mengunjungi lokasi bencana longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Banjarnegara, Jawa Tengah. Dia tiba di lokasi, sekitar pukul 11.45 WIB, bersama Ibu Negara Iriana Widodo.

Selama hampir dua jam, Jokowi mengunjungi lokasi longsor dan puskesmas yang merawat korban, didampingi oleh Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Bayu Purwiyono, dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Jokowi yang mengenakan kemeja putih, celana hitam dan sepatu kulit warna hitam, langsung menemui tim pencari yang masih melakukan aktivitas pencarian korban, serta berkeliling selama hampir satu jam untuk menemui para relawan.

Pantauan VIVAnews di lapangan, Jokowi membuat anggota pasukan pengamanan presiden (Paspampres) kelimpungan, saat dia langsung melangkah di jalanan yang becek tertutup lumpur, menuju lokasi evakuasi.

Termasuk Pangdam IV Diponegoro. Perwira tinggi TNI itu tampak bergegas dengan Danrem 071 Wijayakusuma Kolonel Edison, tidak mau tertinggal langkah dari Jokowi. Paspampres juga terlihat sangat sibuk, saat mengikuti Jokowi berkeliling.

Selain harus mengikuti langkah cepat Jokowi, mereka juga harus menjaga sang Presiden dari banyak warga di lokasi, yang penasaran ingin melihatnya. Setelah berkeliling di lokasi longsor sekitar 45 menit, Jokowi kemudian mengunjungi puskesmas.

Selain berbincang dengan para korban, Jokowi juga menyerahkan bantuan pada warga, untuk meringankan hidup mereka yang terganggu akibat bencana longsor. "Saat ini kita fokus dulu di proses evakuasi. Kita tidak berbicara yang lain," kata Jokowi.

Menurutnya proses evakuasi akan terus dilakukan, tergantung dengan kondisi di lapangan. "Pokoknya fokus evakuasi dulu. Belum bisa dipastikan kapan evakuasi ditutup (dihentikan). Semuanya
tergantung kondisi di lapangan," ucapnya.

Jokowi mengakhiri kunjungannya pada pukul 13.45 WIB, berangkat menuju Cilacap melalui jalur darat dan kembali ke Jakarta menggunakan pesawat. (ms)

Recent Post