Latest Updates
Showing posts with label olahraga. Show all posts
Showing posts with label olahraga. Show all posts

Rio Haryanto gagal masuk finis di laga pertama Formula One (F1)


Rio Haryanto gagal masuk finis di laga pertama Formula One (F1) hari Minggu, 20 Maret 2016, di GP Australia. Ada masalah teknis di mobil Manor Racing miliknya, yang membuat oli berceceran.
Rio hanya bisa bertahan 17 putaran dari 57 putaran di sirkuit Albert Park, Melbourne. Masalah mobil MRT-05 terlihat disaat masuk ke dalam pitlane usai kecelakaan hebat Fernando Alonso dan Esteban Gutierrez.
Usai balapan, Rio pun menceritakan soal apa yang terjadi pada mobil MRT-05 yang dia kendarai. Pembalap 22 tahun itu mengaku baru sadar ada kerusakan di mobil saat melihat adanya oli yang berceceran.
"Sebenarnya tidak ada masalah sampai red flag dan kita harus masuk pit lane. Saat itu, saya lihat banyak oli tercecer dari belakang gearbox, Setelah itu, seluruh tim dan mekanik melihat kondisi mobil dan memutuskan untuk tak bisa melanjutkan balap. Karena kalau dilanjutkan kondisi mobil bisa semakin parah," ungkap Rio menjelaskan.
Banyak pihak yang menilai mobil yang disediakan Manor untuk Rio menjadi alasan utama gagal finis, sehingga penampilan Rio di Australia kurang maksimal, Namun, hal itu dibantah oleh sang pembalap.
"Tidak hanya saya, tim juga kecewa karena tentu target mereka kedua pembalap berhasil finis. Tapi kami siap untuk balapan berikutnya di Bahrain, dan kami tentu akan bekerja lebih keras. Mohon dukungannya dari segala pihak," kata Rio menjelaskan.

Arema Takut Main di Kandang Persib

Arema Takut Main di Kandang Persib
Hawa panas menjelang berlangsungnya final Inter Island Cup antara dua klub papan atas ISL musim ini mulai terasa.

Manajemen Arema Cronus secara spesifik telah menyampaikan pernyataan keberatan jika pertandingan final dilangsungkan di Bandung.

Sejumlah komunikasi informal tentang lokasi laga final yang dijadwalkan pada 27 Januari 2015 itu mulai terjadi antara Manajemen Arema Cronus dan panitia dari PT. Liga Indonesia.

Isu tentang final yang berlokasi di Bandung pun sempat menyeruak dan disikapi dengan tegas oleh manajemen Arema Cronus.

"Kalau sampai pertandingan final digelar di Bandung, dengan segala hormat Arema memberikan gelar juara IIC pada Persib," tegas Rudy Widodo, General Manager Arema Cronus  Senin (22/12/2014).

Menurutnya isu itu sempat beredar marak di dunia maya. Kabar itu juga sempat diobrolkan langsung oleh Rudy kepada Manajer Administrasi PT.Liga, Darwis Satmoko.

Rudy menyebut jika pertandingan digelar di basecamp Persib, stadion Si Jalak Harupat Bandung, maka Rudy meminta sistem final dilakukan secara home and away.

amun jika pertandingan final digelar dalam satu kali pertandingan, dia ingin PT.Liga memilih lokasi yang netral bagi dua klub rival berat itu.

"Kalau alasannya untuk menghormati Persib sebagai pemenang ISL dan final akan berlangsung di Bandung, lebih baik gelar pemenang IIC kami serahkan pada Persib, Kalau home and away, kami bersedia ," tandasnya lagi.

Juara dunia bulutangkis 2005 meminta PSSI Bercermin dengan Kaca yang Besar

Juara dunia bulutangkis 2005 meminta PSSI Bercermin dengan Kaca yang Besar
Taufik Hidayat mempertanyakan pernyataan PSSI yang menilai prestasi bulutangkis sedang down. Juara dunia bulutangkis 2005 itu meminta PSSI berkaca dengan cermin yang besar sebelum menilai cabang olahraga lain.

Wakil Ketua Umum PSSI La Nyalla M. Mattalitti pada Rabu (10/12) lalu menyebut pembentukan Tim Sembilan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi kurang tepat. Dia meminta Menpora mengurusi cabang olahraga lain, bulutangkis dan berkuda, yang sedang down. Sebab, sepakbola sudah bagus.

Pernyataan itu pun membuat kalangan bulutangkis meradang. Mereka tak terima dikatakan punya prestasi yang sedang down. Di situs jejaring sosial telah beredar "kegeraman" dari orang-orang bulutangkis.

Demikian pula dengan legenda pebulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat. Menurut peraih medali emas di Olimpiade 2004 itu, prestasi bulutangkis memang sedang tak konsisten tapi bukan berarti down. Apalagi jika dibandingkan dengan sepakbola yang belum juga bisa bersaing di level Asia Tenggara.

"Sikap PSSI itu sangat tidak lucu. Prestasi kami tidak down, hanya naik turun. Apakah imbang membandingkan prestasi tingkat dunia dengan prestasi yang bahkan belum sampai pada tingkat Asia Tenggara?" tutur Taufik dalam perbincangan dengan detiksport, Jumat (19/2/2014).

"Kalau memang PSSI ada urusan dengan Menpora jangan bicara soal bulutangkis. Olahraga prestasi itu, ya, bulutangkis. Sepakbola olahraga masyarakat, kami juga suka. Kalau membandingkan prestasi, nanti (PSSI) malu sendiri. Selama ini prestasi mereka di SEA Games saja tidak jelas, kemarin AFF juga tersingkir. Salah satunya kalah dari Filipina 0-4.

"Kalau di level Asia Tenggara saja tak bisa unjuk gigi, mereka mau main di mana? Sebetulnya masyarakat juga sudah tahu kiprah mereka. Seharusnya mereka bercermin dengan kaca yang besar, sangat besar. Kalau memang tak punya cermin bisa kami kirimkan," tutur peraih medali emas tunggal putra Olimpiade 2004 Athena itu

Taufik juga sepakat dengan usulan bekukan PSSI yang sedang ramai di media sosial. Asalkan, ada solusi terbaik untuk masa depan para pesepakbola tanah air.

"Usulan bekukan PSSI itu kan sudah lama ada, kalau FIFA berkehendak bisa saja langsung ketok palu. Tapi, Indonesia adalah pasar yang besar, masyarakat juga sangat mencintai sepakbola. Saya juga memikirkan nasib para pesepakbola kalau nantinya PSSI benar-benar dibekukan, mereka mau bagaimana. Itu yang harus dicari solusinya," jelas Taufik.

"Kalau toh dibekukan FIFA lah yang berhak. Pemerintah memang tidak boleh ikut campur terlalu jauh, tapi dua-duanya harus mencari solusi seperti apa.

"Tapi, kalau PSSI ribut-ribut terus, bagaimana? Tidak ada prestasi, malah ada sepakbola gajah. Itu kan tercela. Ujung-ujungnya pemain yang jadi korban sikap pengurus. Saya tahu di sana ada uang yang besar sekali, tapi kalau selalu mengorbankan sekian banyak pemain apa itu bagus?

"Sekali lagi sorry, kalau masalah olahraga bolehlah kami diadu sama PSSI. Prestasi yang kami miliki tak bikin kami sombong, PSSI enggak ada prestasi kok malah sombong. Sudah saatnya memang ada yang harus menegur PSSI. Dari semua PB cuma dia yang melawan pemerintah. Bahkan Kemenpora pun dilawan," ucap bapak dua anak itu.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Rexy Mainaky, juga tidak setuju jika bulutangkis Indonesia saat ini disebut "down".

"(Situasi kami ke arah) perbaikan. Pemain-pemain muda kita ada tiga lapisan. Sekarang menunjukkan prestasi juara, atau bisa melaju ke final, kalau ikut turnamen. Kami juga sedang terus berusaha mengoptimalkan sport science dan menjadikan olahraga sebagai industri," katanya.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Equestrian Federation of Indonesia (EFI), Prasetyono Sumiskum, juga tidak terima dengan penilaian La Nyalla. Ia meminta PSSI membaca sendiri prestasi-prestasi apa yang telah dicapai cabang berkuda di ajang internasional.

Recent Post